Senin, 07 Juni 2010

sikap kristiani terhadap iptek

Iman dan Iptek
Contributed by
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”
(Amsal 1:7)
Sebagai orang Kristen, dan dalam terang iman kristiani, kita ini harus pro atau anti sama teknologi? Pro atau anti sama
ilmu pengetahuan? Pilih iman atau otak? Doktrin atau ilmu?
Kenapa pertanyaan-pertanyaan itu perlu dipikirkan dan dijawab? Karena ada pendapat, semakin kita beriman, semakin
sedikit kita pake otak kita. Beriman berarti menyangkali akal sehat, karena percaya kepada apa yang nggak masuk akal.
Tentang asal-usul dunia ini, misalnya, orang beriman yakin bahwa Allah-lah yang menciptakannya dari tidak ada menjadi
ada dengan firman-Nya. Kenapa? Karena Alkitab, firman Allah yang tertulis, mengatakan demikian. So, percaya aja.
Sedangkan yang “pake otak” nggak bisa terima pokok creatio ex nihilo. Yang masuk akal adalah apa yang
ada sekarang terbentuk lewat sebuah proses, atau multi-proses, dari yang sudah ada sebelumnya. Stephen Hawking,
contohnya, mengajukan teori Big-bang, Ledakan Besar, untuk menjelaskan terjadinya alam semesta ini. Sebenarnya, itu
nggak lain dari teori “kebetulan.”
Kalo pemikiran seperti itu – iman berlawanan dengan otak – bikin orang Kristen sampe menjauhi iptek
demi memelihara imannya, sungguh mengerikan! Karena itu berarti dunia iptek bakalan dikuasai oleh orang-orang ateis
yang tidak beriman, yang nggak takut sama Tuhan. Sebaliknya, dunia Kekristenan cuma diisi oleh orang-orang yang
picik dan fanatik, yang cuma ngikutin emosi, bukan akal sehat. Quo vadis, dunia? Quo vadis, Gereja?
Lebih dari itu, sikap menjauhi iptek demi memelihara iman benar-benar berlawanan dengan firman Tuhan. Karena
Alkitab sendiri berpesan, “Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang
berpengertian memperoleh bahan pertimbangan” (Ams 1:5). Kalau begitu, bersikap masabodoh terhadap iptek,
apalagi menjauhi dan menolaknya, berarti menolak firman Tuhan! Melawan kehendak Allah! Dosa!
Orang Kristen justeru harus pake otak. Pake akal sehat dalam memahami segala sesuatu. Semaksimal mungkin. Yang
membedakannya dengan orang yang tidak percaya sebenarnya sangat sederhana. Tapi mendasar. Orang Kristen waktu
berpikir selalu melibatkan “unsur” Allah, bukan cuma apa yang kelihatan dan terukur dengan panca-indera
yang terbatas. Jadi, misalnya, antara orang percaya dan Stephen Hawking, bedanya sangat sederhana, namun
mendasar. Yang pertama percaya kepada “unsur” Allah sebagai the Ultimate Cause dari segala yang ada.
Sedangkan yang kedua percaya kepada “kebetulan.” Sama-sama percaya. Cuma obyek kepercayaannya
yang berbeda. Hayo, mana yang akalnya lebih sehat, yang percaya kepada Allah atau yang percaya kepada
“kebetulan”?
Demikian juga antara orang percaya dan kaum evolusionis, para penganut teori evolusi ala Charles Darwin, bedanya
sangat sederhana, namun mendasar. Para evolusionis berteori, pada mulanya kehidupan berasal dari yang non-hidup,
lewat proses yang sangat panjang. Mereka berpikir demikian karena tidak melibatkan “unsur” Allah.
Sedangkan orang percaya seperti Georges Leopold Cuvier, ahli biologi terkenal dari Perancis pada abad ke-18,
menentang pemikiran ini. Ia menegaskan, bahwa “kehidupan selalu berasal dari kehidupan. Kita melihat
kehidupan dialihkan, tapi tidak pernah diciptakan”. Allah sang Sumber Kehidupan yang memberikan kehidupan
kepada ciptaan-Nya. Mana yang lebih masuk akal? Benda mati jadi makhluk hidup lewat proses yang
“ajaib”, atau Sumber Kehidupan membagikan kehidupan-Nya kepada benda mati sehingga hidup?
Para evolusionis berteori bahwa pelbagai jenis hewan berevolusi menjadi spesies baru. Karena itu banyak jenis hewan
yang nggak ada lagi sekarang ini. Cuvier nggak setuju. Dia berhasil nunjukkin bukti-bukti bahwa hewan peliaraan nggak
berubah sejak zaman Mesir kuno. Juga bahwa lenyapnya pelbagai jenis hewan adalah karena hewan itu punah, bukan
karena berubah jadi spesies baru. Dokumen fosil nunjukkin hal ini. Cuvier berkata, “Jika spesies memang
berubah secara bertahap, kita seharusnya bisa menemukan jejak perubahan itu; antara fosil paleotherium dan spesies
yang ada sekarang seharusnya ada bentuk antara: tapi ini tidak pernah ada”. Mana yang lebih masuk akal,
penjelasan para evolusionis or Cuvier?
Bagaimanapun, iman dan iptek, sekalipun bisa bersandingan, nggak bisa dicampuraduk. Kalo dicampuraduk, bakalan
kacau. Coba bayangkan, kalau seorang fisikawan bekerja di laboratoriumnya dengan berpedoman terutama kepada
ayat-ayat Alkitab, bukan kepada metode-metode ilmiah tertentu, apa jadinya? Sebaliknya, jika ia mendengarkan khotbah
di gereja pada Hari Minggu dengan pendekatan ilmiah, apa jadinya? Pasti kacau! Atau, bagaimana jika seorang dokter
menangani pasiennya dengan mengandalkan terutama Alkitab, bukan pengetahuan medisnya? Pasti kacau!
Kita perlu sadar, setiap bidang kehidupan punya hukumnya sendiri. Juga tujuannya sendiri. Di dunia dagang, ya cari
untung. Di dunia politik, ya menghimpun kekuatan, meraih suara, dan meraih kedudukan. Di dunia ilmu, ya mencari
kebenaran ilmiah. Di gereja, ya melayani tanpa pamrih, malahan berkurban kalo perlu. Jangan dicampuraduk, nanti
kacau!
Solus Christus : Sebuah Tantangan untuk Mengutamakan Kristus
http://gkimciumbuleuit.org Powered by Joomla! Generated: 7 June, 2010, 20:53
Kalau begitu, sikap seperti apa yang paling tepat? Nats kita menjawabnya. Takut akan TUHAN adalah permulaan
pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Ams 1:7). Apa artinya? Sederhana, sang fisikawan
boleh dan seharusnya bekerja di laboratoriumnya menurut prinsip-prinsip ilmiah, karena memang tidak ada ilmu aljabar
Kristen atau ilmu kimia Kristen. Tapi ingat, ia tetap orang Kristen. Ia harus bekerja di laboratoriumnya sebagai ilmuwan
Kristen. Dengan takut akan Tuhan. Maksudnya, dengan menghormati Tuhan. Taat kepada Tuhan. Mengabdi kepada
Tuhan. Melayani umat manusia. Menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
Misalnya begini. Seorang ilmuwan meneliti atau mengembangkan sesuatu dengan prinsip-prinsip ilmiah. Dari risetnya
itu, ia menemukan suatu penemuan yang luar biasa, yang bisa bikin namanya terukir dengan tinta emas dalam catatan
sejarah perkembangan iptek. Tapi, penemuan itu bisa juga disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu buat bikin senjata
yang sangat mengerikan. Di sini, nasib umat manusia dipertaruhkan. Prinsip takut akan Tuhan harus bekerja. Sang
ilmuwan harus memilih untuk tidak mengumumkan hasil risetnya itu.
Kalo manusia nggak takut akan Tuhan. Nggak mengabdi kepada Tuhan dan sesama, apa yang bakalan terjadi? Kalo dia
seorang ilmuwan, dia akan bereksperimen gila-gilaan, sampe melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan tega ngejadiin
sesamanya manusia kelinci percobaan. Kalo dia seorang pengusaha, dia bakalan pake pengetahuan en pengalamannya
buat meraih keuntungan sebesar-besarnya, kalo perlu sampe ngorbanin sesamanya manusia. Wah, serem sekali!
Jadi, kembali ke pertanyaan awal, sebagai orang Kristen, dan dalam terang iman kristiani, kita ini harus pro atau anti
sama teknologi? Pro atau anti sama ilmu pengetahuan? Pilih iman atau otak? Doktrin atau ilmu? Jawabannya,
pertanyaan itu salah sekali, karena manusia memang diciptakan Tuhan dengan kemampuan untuk mengembangkan
teknologi. Itu berarti teknologi pada dirinya sendiri baik. Inti teknologi khan mengubah apa yang ada. Manusia nggak bisa
lari sekencang kijang, maka teknologi menciptakan mobil supaya manusia dapat bergerak lebih cepat dibandingin kijang.
Manusia nggak bisa terbang seperti burung, maka teknologi menciptakan pesawat terbang supaya manusia bisa terbang
lebih tinggi daripada burung.
Manusia nggak bisa menghindar dari teknologi. Begitu kita pake payung waktu hujan, setel kipas angin supaya udara
nggak terlalu panas, kita udah pake teknologi. Jadi, persoalannya bukan pro atau kontra teknologi, tapi gimana
seharusnya menggunakan teknologi. Persoalannya ada pada manusianya! Takut akan Tuhan or nggak?
Bagaimana dengan rekayasa genetika dengan isu terakhirnya, kloning manusia? Sama saja, yang jadi persoalan,
benarkah menjadikan manusia, sepapa apapun dia, kelinci percobaan? Sekalipun dia rela? Apakah itu melanggar batas
wilayah kerja manusia? Apa yang terutama menggerakkan para ahli bioteknologi untuk mengembangkan rekayasa
genetika, kesejahteraan sesama atau keuntungan milyaran dolar? Perlu dicatat, bahwa pada kenyataannya rekayasa
genetika adalah suatu bisnis multi-miliar dolar. Ada dampaknya terhadap komitmen pernikahan? Apa dampaknya
terhadap kejiwaan?
Solus Christus : Sebuah Tantangan untuk Mengutamakan Kristus
http://gkimciumbuleuit.org Powered by Joomla! Generated: 7 June, 2010, 20:53

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar